Chapter Kedua: Pertemuan

Author Kuro Lunatic , 8 Sep 2013 2:11 AM

第二語:出会い
Chapter Kedua: Pertemuan

© Kuro Lunatic


Garis di batu sudah banyak. Entahlah berapa jumlahnya, yang pasti sosok kecil itu masih tetap menorehkan garis baru bersamaan dengan langit yang memerah. Tak sedikitpun terbersit di benaknya bahwa tak ada yang akan menjemputnya. Walaupun torehan garis sudah hampir memenuhi permukaan batu.

Berkali-kali pula rumahnya rusak, bahkan pada hari di mana cuaca terlihat bersahabat. Langit cerah tanpa ada tanda-tanda akan mengamuk. Beberapa makhluk yang tak senang melihat si kecil, yang terlihat senang melihat sosok mungil itu kebingungan, kesusahan. Bukan manusia, tapi yang disebut-sebut sebagai youkai.

Tapi si kecil yang tak mengenal dunia—terlalu polos—tak pernah berpikiran buruk. Dalam diam, dia bangun lagi rumah kecilnya. Yang sebenarnya bahkan tak layak disebut gubuk sekalipun.

Biasanya dia mengumpulkan buah-buahan untuk dimakan, lalu duduk menunggu Kaa dan Tou yang mungkin saja datang hari ini. Ketika langit sudah sewarna dengan api yang hanya pernah beberapa kali dilihatnya, torehan pada batu bertambah satu. Lalu tubuh mungil itu akan berbaring di atas dedaunan yang dihamparkan begitu saja di atas tanah. Hanya berselimutkan dedaunan pula. Menahan dinginnya malam hingga esok hari datang.

Begitu terus, setiap hari berulang. Hanya terkadang Kappa Jii-chan mendatanginya, menemaninya bermain. Terkadang mereka yang datang, merusak rumahnya, mengambil buah-buahan yang dikumpulkannya, lalu pergi.

Tetapi akhir-akhir ini ada yang berbeda. Dia tak ingat berapa garis yang lalu, yang pasti ada seseorang dengan benda aneh yang menutupi mukanya, sering terlihat duduk di pinggir sungai dengan tongkat panjang yang aneh. Yang membuat si kecil takjub, setelah duduk agak lama, di ujung tongkat itu ada—dia tak tahu namanya, pokoknya yang kadang Kaa dan Tou makan. Dia tak pernah mencicipi apapun nama makanan itu.

 Sejak hari itu si kecil selalu mengikuti orang itu diam-diam, memperhatikannya duduk di pinggir sungai lalu tiba-tiba saja makanan itu sudah ada di ujung tongkatnya. Aneh.

Tapi bagaimanapun dia mencoba untuk diam-diam memperhatikan, akhirnya ketahuan juga. Atau malah orang itu sudah tahu diintip dari awal? Entahlah. Yang pasti setelahnya si kecil diberikan makanan itu. Tapi sebelumnya orang itu membuatapi. Dia tak pernah melihat api pada siang hari. Bahkan pada malam hari hanya Kaa dan Tou yang boleh berada di dekat api, dia hanya boleh berada di pojokan terjauh. Makanan itu didekatkan pada api hingga muncul wangi yang membuat perutnya berbunyi.

Ternyata makanan yang katanya namanya ikan itu enak! Pantas saja Kaa dan Tou sering makan makanan ini.

“Kau, namamu siapa?”

Orang itu bertanya, si kecil hanya menatapnya dengan tatapan lurus, tersirat raut bingung di wajahnya. Kappa Jii-chan juga pernah menanyakan hal itu padanya. Tapi jawaban yang keluar dari bibir mungil itu malah membuat sang penunggu danau tertawa.

“…omae…?” Sepertinya bukan ya…kalau nggak salah, Tou pernah menyebut dia… “…Nashi.

Si kecil yang menyebut diri Nashi tak bisa melihat ekspresi orang di depannya, soalnya ketutup sama benda aneh sih. Terus ditanya lagi lainnya, katanya orang itu sering melihat dirinya berkeliaran di hutan sendirian, tinggal di mana.

“Uhm…gak tau.”

“Terus di hutan ini ngapain sendirian?”

“Nunggu. Kaa sama Tou.

Ada jeda sejenak yang digunakan si kecil untuk menghabiskan ikannya sampai bersih. Soalnya enak sih. Jadi pingin lagi, tapi udah nggak ada.

“Kau ingat sudah berapa lama menunggu?”

Uh…kalau ditanya seperti itu, dia nggak tahu. Jadinya dia tarik tangan orang itu, ke rumahnya. Goresan di batu lebih menjelaskan semuanya. Itu menurutnya sih. Tapi kenapa orang itu malah terdiam, terus pertanyaan selanjutnya malah bikin si kecil bingung.

“Kau mau tinggal denganku?”

Dia harus jawab apa kalau ditanya begitu? Kepala yang dihiasi surai hitam yang terlihat agak kotor bergerak menggeleng. “Nggak, nunggu Kaa, Tou. Di sini.”

Soalnya mungkin besok mereka datang kan? Dia nggak tahu, kapan aja dia bisa dijemput. Kalau dia nggak ada waktu Kaa dan Tou datang, bisa-bisa dimarahin.

Dari orang itu terdengar desahan pelan, lalu kepalanya dielus. Nggak pernah ada yang mengelusnya seperti itu, rasanya nyaman. Katanya dia besok datang lagi, mau bawa ikan lagi.

“Oh iya, namaku Hitori, omong-omong.”

Itu kata terakhirnya sebelum dia pergi, ke rumahnya sendiri. Jadi hari ini si kecil Nashi punya kenalan baru, Hitori yang mukanya ditutup benda aneh.

0 Response to "Chapter Kedua: Pertemuan"

Posting Komentar

Review~