Chapter Pertama: Permulaan

Author Kuro Lunatic , 17 Agu 2013 10:11 AM



第一語:始まり
Chapter Pertama: Permulaan

© Kuro Lunatic


Tubuh kecil itu meringkuk lebih dalam, ke dalam ceruk sebuah pohon besar. Entah apa jenis pohonnya. Berteduh dari terpaan angin dan hujan yang mengganas di luar sana. Tapi jelas ceruk itu tak bisa menghalau percikan air yang mengenai anak itu. Tak bisa juga menahan udara yang terasa semakin membeku.

Kaa… Tou…

Rumahnya—kalau dedaunan besar yang dibentuk menyerupai atap dan beberapa dibentangkan di atas tanah dapat disebut rumah—pasti sudah hancur. Terbang terbawa angin. Beberapa kali Guntur menggelegar, angin membuat pepohonan bergesekan, menghasilkan bunyi menyeramkan. Beberapa kali itu pula tubuh itu terlonjak pelan, ketakutan. Kimono tipisnya basah, seakan menyatu dengan kulitnya. Gigi gemeretak, menggigil, badannya mulai memutih.

Dia mencoba tidur, di tengah ganasnya angin dan hujan, di tengah ketakutannya. Kalau tidur, besok cepat datang. Besok pasti Kaa dan Tou menjemputnya. Dengan suara besar mereka, menyuruhnya untuk berjalan cepat, agar jangan ketinggalan, pulang ke gubuk.

—|i|—

Ketika manik hijaunya terbuka, matahari sudah sangat tinggi.  Langit terlihat cerah, bersih tanpa satu awan pun. Seakan badai semalam hanyalah mimpi buruk si kecil semata. Tapi dia tahu itu bukan mimpi. Walau kini pakaiannya telah kering, dingin yang semalam menusuk tak terasa lagi.

Dia terlihat agak panik menyadari betapa matahari sudah sangat tinggi. Ketika dia keluar dari ceruk, bayangan dirinya berada tepat di bawahnya. Kaki telanjangnya segera berlari, membawa tubuh kecilnya secepat mungkin ke kumpulan pepohonan tempat dia harus menunggu.

Benar saja, kumpulan daun besar yang telah dia susun sedemikian rupa sudah lenyap tak berbekas. Dan tak ada tanda-tanda Kaa dan Tou sudah datang. Sepertinya dia masih harus menunggu, yang berarti dia harus membuat rumah lagi.

Untunglah dedaunan dan sulur-sulur yang dia butuhkan dengan gampang bisa didapatkan. Walaupun membutuhkan waktu yang agak lama, dia menggunakan sulur-sulur tanaman untuk mengikat daun yang terbesar dengan beberapa pepohonan pendek. Daun-daun sisanya dihamparkan di atas permukaan tanah yang telah dia bersihkan dari bebatuan dan kerikil. Rumahnya.

Paling tidak sampai Kaa dan Tou menjemput.

Pekerjaannya selesai ketika matahari mulai condong ke Barat dan langit mulai berwarna kemerahan. Langkah kecilnya membawanya ke sebuah batu—yang baginya—lumayan besar. Di atasnya tertoreh beberapa garis.

Celingukan sebentar, mencari sesuatu di tanah. Setelah beberapa saat, dia membungkuk untu mengambil sebuah batu—kecil, dengan ujung yang kelihatan agak runcing. Ditambahkannya torehan garis di atas batu itu.

Torehan ke-57

Dia menambahkan torehan itu setiap kali matahari terbenam, atas usulan youkai yang kebetulan melihatnya menetap di tempat itu. Dia tak dapat menghitung, dan dia juga tak mengerti sebenarnya untuk apa melakukan itu. 

Tapi itu semua nggak penting. Selama mengumpulkan sulur dan dedaunan tadi, dia juga sekalian mengumpulkan buah-buahan. Beberapa akan dimakannya, sisanya akan disimpannya untuk Kaa dan Tou yang akan menjemputnya. Mungkin setelah dia bangun nanti, atau mungkin setelah dia dua kali, tiga kali bangun lagi.

Dan mungkinkah kali ini dia akan mendapat pujian? Dengan suara mereka yang selalu besar dan bernada tinggi setiap mengatakan sesuatu kepadanya. Dia tak sabar untuk menunggu besok. Atau besoknya lagi. Atau besok besoknya lagi. Hingga Kaa dan Tou menjemputnya.

0 Response to "Chapter Pertama: Permulaan"

Posting Komentar

Review~